Sejarah tanjung Balai

Diawali ketika Sultan Aceh “Sultan Iskandar Muda” melakukan perjalanan ke Johor dan Malaka dalam pengejaran terhadap Sultan Johor yang diburu mulai dari Kerajaan Aru (Deli Tua) hingga Selat Malaka. Namun Sultan Johor berhasil kabur kembali kedaerahnya pada tahun 1912. Dan ini merupakan awal kisah Sejarah Asahan. Semasa melakukan perjalanan tersebut, rombongan Sultan Iskandar Muda sempat beristirahat di kawasan sebuah hulu sungai, yang kemudian dinamakan ASAHAN. Karena sungainya lebar, sultan alaidin menelurusi sungai itu hingga menemukan sebuah tanjung (pertemuan sungai asahan dgn sungai silau). Sultan heran, daerah yang indah ini tidak ada penghuninya.

Dan di saat istirahat, Sultan terpesona melihat banyak berkeliaran rumput berdaun lebar di pinggir aliran sungai. Rumputnya memiliki bulu yg tebal dan tajam dan  bisa mengasah rencong, pisau, pedang, tombak bahkan bisa membersihkan mariam dari karat akibat  karosi air laut. Karena rumput yang unik itulah Sultan menamakan daerah itu dengan sebutan Asahan.

Setelah lama berisirahat, salah seorang prajuritnya menemukan tungkul jagung bakar dan kulit cempedak yang hanyut di sungai asahan yang jernih itu dan hal itu membuktikan di hulu sungai pasti ada perkampungan, prajurit itu melapor  dan sultan memerintahkan hulubalang dengan ditemani beberapa prajurit yang persenjataan lengkap menelusuri hulu sungai asahan.

Saat menelusuri sungai, di tengah perjalanan hulubalang itu bertemu dengan seorang bomoh (dukun/orang yang punya ilmu kebatinan tinggi) bernama Bayak Lingga dari suku Karo. Bayak Lingga ini mengerti sedikit bahasa Aceh. Akhirnya hulubalang sultan menanyakan siapa yang memerintah negeri tersebut dan Bayak Lingga menjawab penguasa daerah itu bernama Raja Margolang. Bayak Lingga membawa hulubalang Aceh menghadap Raja Margolang. Perjalanan dilanjutkan ke sebuah “Tanjung” yang merupakan pertemuan antara sungai Asahan dengan sungai Silau, Akhirnya mereka  bertemu dengan Raja Simargolang. Melihat kedatangan hulubalang Aceh beserta bala prajurit gagah dengan persenjataan canggih di masa itu membuat hati Raja Margolang menjadi ciut. Bayak Lingga mencerita kepada Raja Margolang  maksud kedatangan tentara Aceh itu untuk menguasai daerah tersebut dan tunduk dibawah kekuasaan Kerajaan Aceh. Hal ini membuat Raja Margolang semakin menjadi takut.

Akhirnya Raja Margolang mengutus Bayak Lingga untuk mewakilinya menghadap Sultan karena Bayak Lingga itu lebih mengerti bahasa Aceh, karena harus menghadap Sultan, Bayak Lingga Karo dihiasi dgn pakaian kebesaran kerajaan dan menyampaikan pesan akan tunduk di bawah kekuasaan Aceh.

Sesampainya di hilir, Sultan memberitahukan kepada utusan Raja Margolang itu menetapkan Asahan sebagai wilayah kekuasaannya dan memerintahkan Bayak Lingga untuk mendirikan sebuah pelataran sebagai “Balai” untuk tempat menghadap, yang kemudian berkembang menjadi perkampungan. Perkembangan daerah ini cukup pesat sebagai pusat pertemuan perdagangan dari Aceh dan Malaka, sekarang ini dikenal dengan “Tanjung Balai”.

Di kampung itu pula Sultan menikahi salah seorang puteri Raja Simargolang dan dari hasil perkawinan Sultan Iskandar tersebut  lahirlah seorang putera yang bernama Abdul Jalil yang menjadi cikal bakal dari kesultanan Asahan. ( Abdul Jalil dinobatkan menjadi Sultan Asahan I. Pemerintahan kesultanan Asahan dimulai tahun 1630 yaitu sejak dilantiknya Sultan Asahan yang I s.d. XI ). Selanjutnya  sultan kembali melanjutkan pertempuran di Selat Malaka.

Setelah sultan pergi, Bayak Lingga kembali ke hulu menemui Raja Margolang dan menyampaikan pesan Sultan Aceh tersebut dan akhirnya Bayak Lingga membangun perkampungan tersebut dan menjadi raja di tanjung tersebut (Tabal Mahkota Asahan, Mhd Rasyid 1938)

Kota Tanjungbalai

adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Luas wilayahnya 60 km² dan penduduk berjumlah 125.000 jiwa. Kota ini berada di tepi Sungai Asahan, sungai terpanjang di Sumatera Utara. Jarak tempuh dari Medan sekitar 4 jam.

Sebelum Kota Tanjungbalai diperluas dari hanya 199 ha (2km²) menjadi 60km², kota ini pernah menjadi kota terpadat di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 orang dengan kepadatan penduduk lebih kurang 20.000 jiwa per km². Akhirnya Kota Tanjungbalai diperluas menjadi ± 60 Km² dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1987, tentang perubahan batas wilayah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan.

Pos ini dipublikasikan di Sejarah dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s